Selasa, 11 November 2014

Berkenalan dengan Gangguan Autisme

Berkenalan dengan Gangguan Autisme
     Pada masa-masa saat ini kasus mengenai Autisme pada anak-anak semakin meningkat sehingga seolah-olah menjadi wabah. Kasus mengenai Autisme membuat sekian banyak orang penasaran karena penyebab terjadinya penyakit tersebut belum diketahui pasti. Maka dari itu dianjurkan pada setiap orangtua untuk lebih memahami dan menerima kondisi anak tersebut.

Pengertian Autisme
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2000).  
     Menurut Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma. Autisme merupakan suatu kumpulan sindrom akibat kerusakan saraf (Wijayakusuma, 2005, h. 10).
     Menurut Andri Priyatna. Autis atau autisme adalah salah satu dari LIMA tipe gangguan perkembangan pervasif atau PDD (pervasive developmental disorders), yang ditandai tampilnya abnormalitas pada domain interaksi sosial dan komunikasi (Priyatna, 2010, h. 2).
     Menurut Galih. A. Veskarisyanti. Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya (Verskarisyanti, 2008, h. 17).
     Menurut Adriana S. Ginanjar. Autisme merupakan gangguan perkembangan yang disebabkan oleh kelainan struktur dan kimiawi otak (Ginanjar, 2008, h. 23).
  
Tanda Umum Autisme
     Ada tiga perilaku yang menjadi ciri khas autisme: (a) anak autistik mengalami kesulitan dengan interaksi sosial, (b) bermasalah dengan komunikasi verbal dan nonverbal, dan (c) tampilnya perilaku repetitif atau tampilnya interest yang sempit atau obsesif pada suatu objek tertentu (Priyatna, 2010).

Kriteria Diagnosis Autis
DSM-IV-TR dikutip dalam Peeters (2004) yakni sebagai berikut:
  1. Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok 1, 2, dan 3 yang meliputi paling sedikit dua pokok dari kelompok 1, paling sedikit satu pokok dari kelompok 2 dan paling sedikit satu pokok dari kelompok 3.
  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua di antara yang berikut ini:
a.    Ciri gangguan yang jelas dalam penggunaan berbagai perilaku nonverbal (bukan lisan) seperti kontak mata, ekspresi wajah, gestur, dan gerak isyarat untuk melakukan interaksi sosial.
b.    Ketidakmampuan mengembangkan hubungan pertemanan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
c.    Ketidakmampuan turut merasakan kegembiraan orang lain.
d.    Kekurangmampuan dalam berhubungan emosional secara timbal balik dengan orang lain.
  1. Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari yang berikut ini:
a.    Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestur atau mimik muka sebagai cara alternatif dalam berkomunikasi).
b.    Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.
c.    Penggunaan bahasa yang repetitif (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat idiosinktratik (aneh).
d.    Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
  1. Pola minat perilaku yang terbatas, repetitif, stereotip seperti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang berikut ini:
a.    Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang terbatas atau stereotip yang bersifat abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.
b.    Kepatuhan yang tampaknya didorong oleh rutinitas atau ritual spesifik (kebiasaan tertentu) yang nonfungsional (tidak berhubungan dengan fungsi).
c.    Perilaku gerakan stereotip dan repetitif (seperti terus menerus membuka –tutup genggaman, memuntir jari atau tangan atau mengerakkan tubuh dengan cara yang kompleks.
d.    Keasyikan yang terus-menerus terhadap bagian-bagian dari sebuah benda.
  1. Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia 3 tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut ini : (1) interaksi sosial, bahasa yang digunakan dalam perkembangan sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) permainan simbolik atau imajinatif.
  2. Sebaiknya tidak disebut dengan istilah Rett Disorder, Integrative Disorder Kanak-kanak, atau Asperger Syndrome. (h. 1-2).
Jenis-jenis Autisme
     Ada beberapa tipe autisme yaitu: (a) aloof, anak sering berusaha menarik diri dari kontak sosial dan cenderung untuk menyendiri di pojok; (b) passive, anak ini tidak berusaha mengadakan kontak sosial melainkan hanya menerima saja; dan (c) active but odd, anak melakukan pendekatan namun hanya bersifat satu sisi yang bersifat repetitive dan aneh (Veskarisyanti, 2008).
     Beragamnya pendapat tentang penyebab autisme serta kompleksnya masalah yang dihadapi anak-anak autis memunculkan berbagai macam penanganan. Berikut ini secara singkat beberapa penanganan autisme yang sudah dikenal dan telah terbukti memberikan perubahan positif bagi anak, yaitu (a) applied behavior analysis atau ABA, (b) penanganan biomedis, (c) penanganan integrasi sensorik, dan (d) terapi wicara (Ginanjar, 2008, h.32-35).

Penyebab Autisme
     Sampai saat ini penelitian-penelitian tentang autisme belum menemukan penyebab pasti dari autisme. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab adalah sebagai berikut: (a) faktor genetik, bila salah satu anak menunjukkan gejala spektrum autistik, maka kembarannya punya resiko yang tinggi memiliki gangguan sama; (b) masalah pada masa kehamilan dan proses melahirkan, ibu yang mengkonsumsi alkohol, terkena virus rubella, menderita menderita infeksi kronis atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang diduga mempertinggi resiko autisme; (c) vaksinasi, banyak orang tua yang melihat anaknya yang tadinya berkembang normal menunjukkan kemunduran setelah memperoleh vaksinasi MMR; (d) racun dan logam berat dari lingkungan, berbagai racun yang berasal dari pestisida, polusi udara, dan cat tembok dapat mempengaruhi kesehatan janin; (e) gangguan pencernaan, mereka mengalami intoleransi terhadap berbagai jenis makanan, memiliki tingkat alergi yang tinggi, dan daya tahan tubuh mereka lemah (Ginanjar, 2008, h. 30-31).
Terapi Autisme
     Perlu dipahami oleh para orangtua, bahwa terapi harus dimulai sedini mungkin sebelum usia 5 tahun. Perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia sebelum 5 tahun, puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh karena itu dibagi dalam beberapa jenis terapi, yaitu (a) terapi perilaku, (b) terapi biomedik (obat, vitamin, mineral, food supplements), (c) sosialisasi ke sekolah reguler, dan (d) sekolah (pendidikan) khusus (Handojo, 2003, h. 29-33).

Kesimpulan
     Menjadi anak autisme bukan kemauan dari sang anak, dan untuk menjadi anak autisme tidak berarti bahwa sang anak bukanlah manusia. Semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tergantung dari diri individu tersebut bagaimana cara menghargai arti hidup yang sebenarnya. Tidak pernah ada yang menginginkan untuk menjadi manusia yang memiliki kekurangan atau keterbelakangan, dan bagi para orangtua yang memiliki anak yang mempunyai kekurangan atau pun keterbatasan, janganlah mengucilkan anak tersebut, hargailah anak itu dengan apa adanya.




DAFTAR PUSTAKA
Ginanjar, A. S. (2008). Panduan praktis mendidik anak autis: Menjadi orang tua
     istimewa. Jakarta: Dian Rakyat.
Handojo, Y. (2003). Autisma: Petunjuk praktis dan pedoman materi untuk mengajar
     anak normal, autis dan prilaku lain. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Priyatna, A. (2010). Amazing autism: Memahami, mengasuh, dan mendidik anak
     autis. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Setiawan, E. (2012/2014). Kamus besar bahasa Indonesia. Diunduh dari
Veskarisyanti, G. A. (2008). Dua belas terapi autis: Paling efektif & hemat untuk
     autisme, hiperaktif, dan retardasi mental. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Wijayakusuma, H. M. H. (2005). Anakku sembuh dari autisme: 104 pasien dari
     sejumlah pasien yang disembuhkan bukti efektifitas terapi jarum multi super
     mutakhir. Jakarta: Dyatama Milenia.







Kamis, 06 November 2014

Perkembangan dalam Berkarier

Perkembangan dalam Berkarier
Pengertian Karier
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karier adalah perkembangan dan kemajuan di kehidupan, pekerjaan, dan jabatan (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2000).
     Menurut Amaryllia Puspasari. Karier adalah suatu proses pembentukan perjalanan seumur hidup yang berasal dari proses pengelolaan keahlian, ilmu pengetahuan maupun pengalaman (Puspasari, 2011).
     Maka dapat disimpulkan bahwa karier adalah suatu prestasi yang dicapai. Karier juga adalah suatu pengalaman atau rangkaian perilaku yang dilihat dari kinerja pekerjaan yang berkelanjutan dan mendapat apresiasi dari orang lain.    

Perbedaan Karier dengan Pekerjaan
     Perbedaan Karier Menurut Amaryllia Puspasari. Pekerjaan memiliki definisi sebagai suatu hal yang dilaksanakan oleh seorang individu sebagai bagian dari mendapatkan penghasilan. Mekanisme dari pekerjaan itu sendiri adalah suatu proses pekerjaan dimana pekerjaan tersebut digunakan untuk memberikan kompensasi. Karier adalah suatu proses pengelolaan keahlian, ilmu pengetahuan maupun pengalaman.
     Didalamnya juga melibatkan banyak material dan nilai yang dimiliki oleh individu itu sendiri dalam hidupnya, seperti keluarga, sahabat, teman, pendidikan, pekerjaan maupun hubungan yang dimiliki dalam kehidupan individu yang dimaksud itu sendiri. Cara membedakan kedua hal tersebut secara nyata adalah karier biasanya dapat terbentuk dari pekerjaan yang dimiliki dan dilengkapi dengan komitmen dan integritas dalam menekuni pekerjaan yang dilakukannya. Seorang yang bekerja disebabkan untuk mencari uang saja, tentu akan terlihat sebagai orang yang sangat komersial.

Faktor Penghambat dalam Berkarir
      Ada beberapa faktor yang menghambat dalam berkarier karena tidak bisa megatur prioritas, suka menunda pekerjaan, selalu menghindari resiko, terlalu takut gagal, dan malas membangun jaringan (“Lima faktor penghambat suksesnya karir,” 2013).
      Setiap orang cenderung menghindari kegagalan. Maka atasi kegagalan tersebut dengan mengubah pola pikir dengan meghilangkan rasa takut, bersikap cuek, ekspetasi terlalu tinggi, jangan mudah menyerah, jangan mudah pesimis (“Kalahkan lima sikap penyebab kegagalan,” 2012).

Faktor Keberhasilan dalam Berkarier
      Pekerjaan merupakan salah satu tolak ukur dari seberapa sukses karier yang dijalani saat ini. Tidak semua pekerjaan berjalan dengan mulus. Segala hal tentu memiliki tingkat permasalahan yang berbeda. Itulah yang akan menentukan karier seseorang kedepannya. Dan untuk membantu menunjang dalam berkarier, ada beberapa hal yang harus di prioritaskan seperti berpenampilan yang baik, bersosialisasi dengan baik, mempunyai pengalaman, disiplin, percaya diri, tidak terpaku pada satu hal, dan rendah diri. Itulah kunci untuk mencapai suatu keberhasilan yang diinginkan (“Tujuh faktor penunjang kesuksesan dalam karir,” 2014).

Pemahaman Jalur Karier
     Beberapa jalur karier yang akan dimiliki oleh seseorang. Secara umum tersedia 3 jalur karier yang dapat muncul dari tiap individu, yaitu: (a) Jalur karier akadamik, jalur karier ini merupakan jalur karier yang terbentuk dari latar belakang pendidikan seseorang, di mana individu diharapkan untuk menempuh jalan seleksi yang ada di bidang akademis sesuatu dengan ditetapkan dalam standar kurikulum; (b) Jalur keahlian, jalur karier ini terbentuk sebagai akibat keterampilan seseorang dalam bekerja, pada beberapa bidang terbentuk sebagai bentuk sistem akademis yang didominasi oleh pelatihan atau pengalaman kerja; (c) Jalur kreativitas, jalur karier yang terbentuk sebagai akibat dari kemampuan individu tersebut sebagai bentuk kreativitas atau seni; (d) Jalur entrepreneurship, jalur karier yang unik di mana individu dituntut untuk dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan pengelolaan investasi. Karier dalam pemahaman praktis adalah proses yang harus melalui perencanaan dan melalui seleksi yang cukup panjang (Puspasari, 2011).
     Bagaimana seseorang individu memilih kariernya adalah hal yang menarik untuk ditelaah. Dalam beberapa individu cenderung untuk tidak dapat mendapatkan pilihan dalam mengembangkan kariernya. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berpaling dari karier yang seharusnya disesuaikan dengan latar belakang pendidikan yang dijalanni oleh anak tersebut dalam bekerja, (a) bagaimana suatu karier dihargai, (b) paksaan dan pengaruh faktor eksternal, (c) tuntutan peranan dalam masyarakat, dan (d) new age career (Puspasari, 2011).

Solusi
     (“Solusi berkarier di tempat paling sesuai minat,” 2014). Banyak orang berkarier didasarkan pada keahlian saja. Sedangkan berkarier juga perlu mempertimbangkan minat dan kepribadian. Salah memilih karier hanya karena tidak mempertimbangkan kenyamanan dan passion dapat mengakibatkan frustasi dan merahnya rapor prestasi kerja. Berikut hal-hal penting dalam menentukan karier yang sesuai minat dan kepribadian. (a) tidak ada salahnya untuk kembali mengenali diri sendiri dan memelajari kepribadian anda sebelum menggunakannya sebagai dasar pemilihan karir, (b) jangan korbankan minat anda demi kepribadian, (c) seimbangkan kepribadian dengan keahlian, (d) konsultasikan panduan karier pada ahli psikologi karier.

Kesimpulan
     Setiap individu dapat berkembang secara unik untuk mencapai karier yang diharapkan akan dicapainya. Dari pengalaman yang terlihat, adalah sangat perlu bagi orang tua untuk mengelola karier anak sejak dini. Kebanyakan orang salah mengira bahwa karier adalah sama dengan pekerjaan, yang mana sebenarnya itu tidaklah tepat. Karier lebih mengikat kepada tujuan hidup dari individu ketika ia dewasa. Untuk mempersiapkan karier dari awal adalah proses yang tepat agar anak menjadi lebih terfokuskan dalam proses pengembangan kariernya.

DAFTAR PUSTAKA
Kalahkan lima sikap penyebab kegagalan. (2012). Diunduh dari http://female.kompas.com/read/2012/05/12/1007496/Kalahkan.5.Sikap.Penyebab.Kegagalan.
Lima faktor penghambat suksesnya karir. (2013). Diunduh dari http://www.lihat.co.id/2013/05/5-faktor-penghambat-suksesnya-karir.html.
Puspasari, A. (2011). Manajemen strategi karier anak: Panduan menjadi konsultan karier anak. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Setiawan, E. (2012/2014). Kamus besar bahasa Indonesia. Diunduh dari http://kbbi.web.id/karier.
Solusi berkarir di tempat paling sesuai minat. (2014). Diunduh dari http://pewartaekbis.com/berkarir-di-tempat-sesuai-minat/2436/#.
Tujuh faktor penunjang kesuksesan dalam berkarir. (2014). Diunduh dari http://gemintang.com/kisah-sukses-motivasi-inspirasi/7-faktor-penunjang-kesuksesan-dalam-karir/.



Senin, 06 Oktober 2014

TUGAS PAPER untuk blog filsafat

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT



EKSISTENSI BADAN DAN JIWA MANUSIA


Disusun Oleh :
Susanthy Margareth Soedaryo ( 705140144 )

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
2014

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
    Makhluk  hidup  secara esensial adalah yang mampu menyempurnakan dirinya sendiri. Makhluk hidup juga dapat melakukan semua kegiatan. Semua makhluk hidup memiliki dua aspek yaitu keseluruhan yang berorgan dan tersusun yang dinamakan badan, dan kesatuan substansial yang disebut jiwa. Badan dan jiwa bersama-sama suatu makhluk hidup yang merupakan substansi natural yang terbentuk dari badan dan jiwa dari keseluruhan organ dan kesatuan fundamental dari kesatuan inderawi dan subjektivitas metainderawi. Manusia juga adalah makhluk yang kompleks sebagai puncak evolusi. Jiwa juga suatu elemen inderawi, halus, panas, dan dinamus seperti nafas ataupun darah yang terdapat pada oragisme secara total. Dalam sudut pandang tulisan kuno, nafas pun dianggap sebagai lawan jiwa atau roh dan darah menjadi lambang hidup manusia itu sendiri. Nafas dan darah pun dapat dilambangkan sebagai jiwa, tetapi tidak dapat merupakannya. Badan dapat didefisinisikan melalui hubungan eratnya dengan dunia dan partisipasinya dengan jiwa atau keakuan. Badan manusia pun menduduki sebuah tempat didunia. Semua badan dilengkapi pancaindera yang membuat manusia sadar akan sekelilingnya dan beraksi secara afektif, sehingga manusia dapat merasakan kenikmatan dan penderitaan.

1.2      Tujuan Pembahasan
            Seperti yang telah di bahas diatas, sebagai manusia yang memiliki badan dan jiwa ada kala baiknya kita perlu mengenal lebih jauh lagi apa tujuan dan makna serta arti keduanya yang menjadi bagian dari diri kita sendiri. Pembuatan karya ilmiah ini bertujuan untuk ke depannya dapat menganalisis kodrat manusia; berbahasa, berkegiatan dan memiliki unsur jiwa dan badan. Selain sebagai penjelasan, pembahasan ini bermanfaat sebagai tujuan untuk penambah wawasan dan memberikan informasi yang lebih baik lagi bagi siapa saja yang merasa kurang jelas menyangkut topik yang dibahas badan dan jiwa.  

BAB 2
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Badan dan Jiwa
     Badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Manusia tidak disebut sebagai manusia kalau ia tidak memiliki jiwa. Demikian juga ia tidak akan disebut sebagai manusia kalau ia tidak memiliki badan. Badan dan jiwa adalah satu kesatuan. Kesatuan keduannya menentukan keutuhan pribadi manusia.
2.2 Aliran-aliran
2.2.1 Monoisme
    Monoisme adalah aliran filsafat yang menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Aliran ini menyatakan bahwa badan dan jiw merupakan satu substansi.
    Keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk kepribadian manusia. Aliran ini memiliki tiga bentuk, yaitu materialisme, teori identitas, dan idealisme.
    Materialisme merupakan teori tertua yang membicarakan hubungan badan dan jiwa. Kendati demikian ada satu prinsip utama yang ditemukan dalam aliran ini, yakni menempatkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada. Aliran ini sering juga disebut fisikalisme. Bagi penganut aliran ini yang terdalam dan paling awal serta satu-satunya yang nyata adalah materi. Materi Bereksistensi karena ia memiliki kekuatan sendiri. Artinya, materi bisa ada tanpa dukungan atau gerakan dari unsur non materi. Materi merupakan sumber serta keterangan terdalam bagi bereksistensinya segala sesuatu. Segala hal tergantung pada materi. Penganut materialisme mengakui bahwa manusia juga bersumber dari materi semata. Karena bersumber dari materi, maka kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki manusia tidak melebihi kemungkinan kombinasi-kombinasi materi. Bagi penganut aliran ini jiwa tidak memiliki eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Ia merupakan buah terakhir dan merupakan hasil evolusi tertinggi dari materi. Dengan pengakuan seperti ini, eksistensi jiwa tidak bersifat ontologis bagi kaum fisikalisme, melainkan bersifat kronologis.
    Teori Identitas menekankan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh penganut materialisme, bahkan mengakui apa yang disangkal oleh materialisme, yakni aktivitas mental. Bagi penganut aliran ini pernyataan mental merupakan identitas manusia. J J Smart dan H Feigl merupakan dua penganut teori identitas. Keduanya membedakan manusia secara filosofis menurut arti dan referensi, atau konotasi dan denotasi. Mereka mengakui bahwa pernyataan mental dan fisik bukan dua hal yang berbeda secara mendasar. Cabang monoisme yang lain adalah idealisme. Kalau penganut materialisme meletakkan dasar segala hal pada materi, maka kaum idealis meletakkannya pada sesuatu diluar materi.
    Penganut idealisme lebih lanjut menegaskan bahwa untuk bisa memahami realitas dan kejadian-kejadian spesial dan temporal sampai pada hakikat yang terdalam. Hal-hal semacam ini senantiasa merupakan fakta pada masa kini. Dalam sejarah filsafat modern Rene Descartes (1596-1650) dikenal sebagai peletak dasar bagi idealisme melalui ungkapannya “cogito ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Dalam ungkapan ini Rene Descartes secara jelas mengaitkan jiwa dengan dengan kegiatan berpikir. Kegiatan berpikir merupakan wujud eksistensi sekaligus ciri utama manusia yang hidup. Jadi dasar eksistensi manusia bagi Descartes, bukan pada aktivitas kejasmanian, melainkan pada aktivitas jiwa, yakni berpikir.
2.2.2 Dualisme
    Dualisme adalah aliran yang mengajarkan pandangan yang bertolak belakang dengan monoisme. Kalau monoisme menyangkal badan dan jiwa sebagai dua substansi yang terpisah dan masih perlu dikaitkan satu dengan yang lain, dualisme justru mengakuinya. Dualisme pada umumnya memiliki empat cabang, yakni interaksionisme, okkasionalisme, paralelisme dan epifenomenalisme.
    Interaksionisme memfokuskan diri pada hubungan timbal balik antara badan jiwa. Aliran ini mengakui bahwa peristiwa-peristiwa mental kadang-kadang menyebabkan peristiwa-peristiwa badani, sebaliknya, peristiwa-peristiwa badaniah kadang-kadang menyebabkan peristiwa mental.
    Okkasionalisme adalah cabang dualisme yang lain. Penganut aliran ini memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa.
    Paralelisme, aliran ini mensejajarkan kejadian yang ragawi dan yang rohani. Aliran ini menyatakan bahwa sistem kejadian kejiwaan terdapat dalam jiwa manusia.
    Epifenomenalisme, aliran ini melihat hubungan badan dan jiwa dari fungsi syaraf. Aliran ini menyatakan bahwa satu-satunya unsur yang kita dapati untuk menyelidiki proses-proses kejiwaan ialah syaraf kita.






2.3 Badan Manusia
    Badan merupakan bagian elemen mendasar dalam membentuk pribadi manusia. Badan adalah dimensi manusia yang paling nyata. Dalam pandangan tradisional, badan hanya dilihat sebagai kumpulan pelbagai entitas material yang membentuk suatu makhluk. Namun pandangan Skinner diatas bersifat deterministik dan tidak memberikan paham yang memadai tentang keutuhan pribadi manusia. Badan manusia tidak sekedar tubuh yang konkret, dan juga tidak hanya merupakan kumpulan organ-organ tubuh. Badan menyangkut keakuan. Tetapi badan tidak berfungsi sampai disitu. Badan juga menghadirkan dunia bagi manusia, sebaliknya menghadirkan manusia bagi dunia. Yang terang buat semua orang ialah, bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Lihat saja, bagaimana manusia itu menjadi sadar. Karena badannya. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya dan dengan demikian: manusia bangkit, berada dalam suatu “cahaya”, dia “melihat” dirinya dan barang-barang, dia menempatkan diri, mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan), dia bisa berjalan, bertindak, dan sebagainya. Lihatlah, cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya, dan jika cacat itu merusak seluruh keinderaan, manusia juga tidak bisa mengerti dunia. Jadi: berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Masing-masing dari kita berkata: AKU. Dengan itu yang dimaksud bukan badan, tetapi juga bukan jiwa. Manusia tidak sadar tentang jiwa, melainkan tentang aku. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. Maka manusia kita katakan: bersifat rohani. Bersamaan dengan itu, manusia juga jasmani, artinya materi. Dia berat atau ringan, berdarah dan berdaging, bisa dilhat secara anatomis, mirip dengan makhluk-makhluk hidup lainnya.


2.4 Jiwa Manusia
    Badan manusia tidak memiliki arti apa-apa tanpa jiwa. Juga tidak ada keakuan mnusia kalau ia dilepaskan dari jiwanya. Itu berati jiwa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perwujudan jati diri manusi sebagai subjek. Dalam pandangan masyarakat tradisional jiwa dimengerti sebagai makhluk halus, atau kekuatan halus, bahkan sebagai tubuh yang tidak bisa ditangkap oleh indera. Konsep seperti ini meletakkan jiwa diluar hakikat manusia. Karena itu pengertian tradisional ini kita tinggalkan. Pandangan James B Pratt (1875-1944) membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini. Pratt menunjukkan bahwa ada empat kemampuan mendasar dari jiwa. Pertama, kemampuan menghasilkan kualitas-kualitas penginderaan. Kedua, kemampuan menghasilkan makna yang berasal dari penginderaan khusus. Ketiga, kemampuan memberikan tanggapan terhadap hasil-hasil penginderaan dan makna dengan jalan merasakan, berkehendak atau berusaha. Keempat, kemampuan memberikan tanggapan terhadap proses-proses yang terjadi dalam pikiran demi kebaikan. Apa yang dikatakan Pratt tentang fungsi moral jiwa sebenarnya tidak jauh dari apa yang dikatakan oleh Santo Agustinus (354-430). Menurut Agustinus, manusia hanya bisa melakukan penilaian terhadap tindakannya karena dorongan dari jiwa. Menurut Agustinus tidak. Jiwa juga mendorong manusia untuk melakukan hukum-hukum moral yang diketahui. Menurut Agustinus merupakan tanda berfungsinya jiwa dalam diri seseorang. Agustinus lebih lanjut menunjukkan bahwa ada dua sumber dari tindakan moral, yakni kehendak dan cinta. Akan tetapi bagi Agustinus, manusia tidak hanya terdiri atas dorongan untuk memenuhi keinginannya, tetapi ia juga memiliki dorongan melakukan sesuatu yang lebih luhur. Dorongan itu ialah cinta. Cinta merupakan daya gerak batin paling fundamental. Karena itulah Pratt benar ketika berkata, “Jiwa adalah aku”. Ia mempunyai cita-cita serta tujuan, mempunyai kehendak, yang menderita, yang berusaha, dan yang mengetahui. Seluruh manusia adalah rohani; seluruh manusia adalah jasmani. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. Dalam berpikir, maka dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri, sebagai dua barang yang tersendiri. Maka kita kata: badan dan jiwa. Jiwa adalah prinsip rohani tadi, badan adalah prinsip jasmani. Pandangan jiwa-badan adalah bisa salah karena memandang dua prinsip sebagai tersendiri. Dalam realitas yang ada bukan badan, tetapi manusia, dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani.
2.5 Badan dan Kesatuan Manusia (AKU)
    Selanjutnya jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (didalam) dan badan juga, tetapi kelihatan. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. Untuk membenarkan, katalah: aku ini ya rohani ya jasmani. Badan adalah bentuk konkrit dari kejasmanianku, atau dari padaku sepanjang aku ini jasmani. Yang ada bukan badan, yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku jasmani. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani, badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. Karena badan itu menjadi penampakkank, maka bisa juga disebut: ekspresi manusia, atau lebih konkrit: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Atau: aku nampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. Jika orang lain lihat badanku, maka dia lihat aku.

2.6 Pandangan Filsuf mengenai Jiwa
    Plato, memandang manusia sebagai makhluk terpenting diantara makhluk lain yang ada didunia ini. Lebih lanjut lagi, Plato mengungkapkan bahwa jiwa manusia merupakan substansi independen, kekal dan sudah bereksistensi sebelum bersatu dengan tubuh. Akan tetapi pada intinya Plato mau menjelaskan bahwa tubuh merupakan penjara jiwa, karena kemurnian jiwa dapat diperoleh kembali kalau ia berhasil melepaskan diri dari ikatan-ikatan ragawi. Sehingga dapat dikatakan bahwa hakekat jiwa bertentangan dengan tubuh. Dengan kata lain Plato lebih menekankan otonomi jiwa itu sendiri.
    Aristoteles, memahami jiwa dalam arti luas. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang hidup baik tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia mempunyai jiwa. Lebih lanjut Aristoteles mengungkapkan bahwa jiwa manusia mempunyai kedudukan istimewa karena manusia berkat jiwanya yang khas itu tidak hanya sanggup mengamati dunia sekitar secara inderawi, tapi sanggup juga mengerti dunia maupun dirinya. Akan tetapi Aristoteles lebih menekankan kesatuan antara tubuh dan jiwa sehingga menurutnya jiwa itu tidak otonom.
    Thomas Aquinas, pandangannya mengenai jiwa di latar belakangi oleh pandangan Plato dan Aristoteles. Aquinas beranggapan bahwa pandangan mereka tidak bisa menghubungkan secara jelas antara tubuh dan jiwa. Beralih dari realitas yang ada, Aquinas melihat bahwa segala aktifitas perbuatan subjek berasal dari kerja sama antara forma substansial dengan tubuh. Aquinas lebih menekankan jiwa sebagai usaha manusia untuk melakukan aktifitas. Aquinas memahami bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang tidak lengkap yaitu materi dan forma. Sehingga tubuh dan jiwa adalah dua unsur yang tidak terpisahkan. Pandangan Aquinas tentang jiwa tidak terlepas dengan tubuh, karena segala aktifitas subjek tidak bisa dianggap bahwa aktifitas tidak hanya dilakukan oleh jiwa sendiri melainkan aktifitas itu terealisasi apabila diikuti oleh aktifitas tubuh sendiri. Sehingga Aquinas berpendapat bahwa aktifitas manusia tidak hanya dilakukan oleh tubuh atau jiwa saja melainkan tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan utuh.
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
    Dari uraian diatas, manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri dalam dunianya. Manusia bukan hanya badan, bukan pula hanya dari jiwa. Manusia bukan pula suatu badan yang padanya ditambahkan suatu jiwa. Masing-masing dari itu, tidak dapat berdiri sendiri. Manusia juga adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dan manusia diciptakan dengan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka dari itu manusia harus saling menghargai dan saling melengkapi satu dan lainnya. Tetapi jiwa tidak bisa berfungsi dengan baik kalau tidak ada badan. Itu berarti badan merupakan elemen konstitutif mendasar bagi jiwa. Badan juga merupakan ungkapan keakuan, yakni jiwa seseorang. Jadi, realitas manusiawi adalah realitas yang secara prinsipial terbentuk dari dua elemen, yakni elemen material dan elemen spiritual.

3.2 Saran
    Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Saya sangat berharap pada para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
3.3 Refleksi Field Trip
    Kegiatan Field Trip itu sangat menyenangkan, karena kita tidak hanya terpaku dalam pembelajaran di kelas saja, melainkan kita belajar di luar lingkungan kampus. Dan saya banyak belajar dari segi kehidupan masyarakat di Kampung Betawi. Selain kampung betawi nya yang sejuk dan indah, masyarakatnya pun ramah-ramah terhadap kami. Dan saya banyak menemukan ciri-ciri khas dari suku betawi tersebut. Dan saya juga tidak henti-hentinya berterimakasih kepada para Tim Dosen yang telah membuat kegiatan pembelajaran tersebut. Saya jadi lebih banyak belajar dan mengenal dunia di luar lingkungan kampus. Dan kegiatan ini lah sistem pembelajarannya tidak membosankan.


DAFTAR PUSTAKA
  1. Sihotang, Kasdin. (2013). Filsafat manusia. Yogyakarta: Kanisius.
  2. Dryarkara, N. (1989). Filsafat manusia. Yogyakarta: Kanisius.









LAMPIRAN




   

    

Jumat, 03 Oktober 2014

Eksistensialisme menurut Jean Paul Sartre

Materi : Jumat, 03 September 2014

Apa itu eksistensialisme. . . ???
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia. Yang pokok pembicaraannya adalah manusia dan cara beradanya yang khas ditengah makhluk lainnya. Mencoba melihat manusia secara khusus.

Beberapa tokoh-tokoh filsafat yang menganut gaya eksistensialisme :  antara lain Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll.

Namun satu hal yang sama, berfilsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.

Ciri-ciri eksistensi :  (-) Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi. (-) Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan. (-) Manusia dipandang terbuka, belum selesai (artinya : manusia itu penuh dengan misteri), Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya. (-) Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.

Tiga cara / sikap bereksistensi :  (-) Sikap Estetis , (-) Sikap Etis , (-) Sikap Religius

Pemikiran filsafat Sartre :  Bagi Sartre manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. (-) Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran. (-) Tanggung jawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri. (-) Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka. 

Kenyataan ( kefaktaan ) yang mengurangi penghanyatan kebebasan :  (-) Tempat dimana kita berada, masa lalu, lingkungan sekitar, kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri, dan maut.

Kebutuhan manusia :  (-) Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelma sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. (-) Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat semata-mata, tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.

Komunikasi dan cinta :  Komunikasi = Suatu hal yang apriori tidak mungkin tanpa adanya sengketa, karna setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah-olah membekukan orang lain. Cinta = Bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karna objektifikasi yang tidak terhindarkan. 





Jumat, 26 September 2014

Pertemuan VIII - Kebebasan

Materi : Jumat, 26 September 2014

" KEBEBASAN "


Oleh : Bapak Bonar Hutapea, M.Si



# Jiwa dan Kebebasan



  ^ Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total didunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya.
  ^ Dalam fungsi menentukan perbuatannya, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas.
  ^ Karena jiwalah manusia menjadi makhluk bebas.
  ^ Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme.


Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan.
( Erich Fromm, The Fear of Freedom, 1960 )
Artinya adalah kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia.

# Pandangan Determinisme
o Determinisme adalah aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia.
o Seluruh kegiatan manusia didunia berjalan menurut suatu keharusan yang bersifat Deterministik.
   - Determinisme Fisik-Biologis
   - Determinisme Psikologis
   - Determinisme Sosial
   - Determinisme Teologis

# Kebebasan sebagai eksistensi manusia
 - Kelemahan determinisme adalah menyangkal sifat multidimensial dan paradoksal manusia, menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penelitian terhadap tindakannya, menafikan adanya tanggung jawab.

# Kebebasan sebagai bagian eksistensi manusia, apa argumentnya........???


  ^ Manusia hidup dalam "kemungkinan dapat" / berhadapan dengan pilihan berbeda bobot.
  ^ Adanya tanggung jawab.
  ^ Makna perbuatan moral ada pada kebebasan.






# Apa arti kebebasan.........???

 > Pengertian umum / Kebebasan negatif / tidak ada hambatan ( tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, dan tidak ada aturan ). Tapi, ini bukan kebebasan eksistensial. 

 > Pengertian khusus / kebebasan eksistensial 
    - Penyempurnaan diri
    - Kesanggupan memilih dan memutuskan
    - Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan

# Jenis-jenis kebebasan

  ^ Kebebasan horizontal ( yang berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbanga intelektual ) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, dan tingkatan nilai)
  ^ Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan)
  ^ Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial :
     - Melibatkan pertimbangan
     - Mengedepankan nilai kebaikan
     - Menghidupkan otonomi
     - Menyertakan tanggung jawab

* Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis, dan normatif

# Empat alasan adanya pembatasan kebebasan sosial
  ^ Menyertakan pengertian
  ^ Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
  ^ Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
  ^ Terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial

# Sejarah perkembangan masalah kebebasan
  ^ Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik
  ^ Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik
  ^ Era kontemporer ( pasca modern ), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
  ^ Kebebasan dalam pemikiran timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri. 







Pertemuan VIII - Manusia Dan Afektivitasnya

Materi : Jumat, 26 September 2014

" MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA "
Oleh : Bapak Raja Oloan Tumanggor

o Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia
   - Yang membedakan manusia dan tumbuhan adalah afektivitasnya.
      Afektivitaslah yang membuat manusia "BERADA"di dunia, berpartisipasi dengan orang lain.
      Afektivitaslah yang mendorong orang untuk mencintai, mengabdi, dan menjadi kreatif.
   - Cara hadir kita, di dunia diperdalam oleh afektivitas.
   - Cinta sejati adalah cinta yang membebaskan.







Contoh : Jika kalian hanya mencintai seseorang karena hartanya, berarti yang anda cintai adalah hartanya.







Thomas Aquinas : Kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda-beda, menurut bagaimana subjek menguasai objek. Keadaan afektif yang berbeda-beda ini disebut hasrat-hasrat jiwa.









o Apa yang bukan perbuatan afektif......???
   * Hidup afektif atau afektivitas adalah seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subjek sehingga ditarik oleh objek atau sebaliknya.
   * Perbuatan afektif sedikit mirip dengan " perbuatan mengenal " karena di anggap perbuatan vital / manen. 

o Kondisi afektifitas manusia :
   - Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektivitas.

o Catatan tentang cinta akan diri, sesama, dan Tuhan :
  
 - Orang sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh. 
  
                               







 - Egoisme menolak setiap perhatian otentik pada orang lain. Orang egois hanya mengambil utang dari apa saja. 




 - Menurut St. Agustinus : Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing-masing. Tuhan dasar dalam mana semua manusia saling berkomunikasi. Makin saya mendekati orang lain, maka saya mendekati Tuhan. 









Sumber : Bahan perkuliahan