TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT

EKSISTENSI BADAN
DAN JIWA MANUSIA
Disusun Oleh :
Susanthy Margareth Soedaryo (
705140144 )
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
JAKARTA
2014
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makhluk hidup secara
esensial adalah yang mampu menyempurnakan dirinya sendiri. Makhluk hidup juga
dapat melakukan semua kegiatan. Semua makhluk hidup memiliki dua aspek yaitu
keseluruhan yang berorgan dan tersusun yang dinamakan badan, dan kesatuan
substansial yang disebut jiwa. Badan dan jiwa bersama-sama suatu makhluk hidup
yang merupakan substansi natural yang terbentuk dari badan dan jiwa dari
keseluruhan organ dan kesatuan fundamental dari kesatuan inderawi dan
subjektivitas metainderawi. Manusia juga adalah makhluk yang kompleks sebagai
puncak evolusi. Jiwa juga suatu elemen inderawi, halus, panas, dan dinamus
seperti nafas ataupun darah yang terdapat pada oragisme secara total. Dalam
sudut pandang tulisan kuno, nafas pun dianggap sebagai lawan jiwa atau roh dan
darah menjadi lambang hidup manusia itu sendiri. Nafas dan darah pun dapat
dilambangkan sebagai jiwa, tetapi tidak dapat merupakannya. Badan dapat
didefisinisikan melalui hubungan eratnya dengan dunia dan partisipasinya dengan
jiwa atau keakuan. Badan manusia pun menduduki sebuah tempat didunia. Semua
badan dilengkapi pancaindera yang membuat manusia sadar akan sekelilingnya dan
beraksi secara afektif, sehingga manusia dapat merasakan kenikmatan dan
penderitaan.
1.2 Tujuan Pembahasan
Seperti yang
telah di bahas diatas, sebagai manusia yang memiliki badan dan jiwa ada kala
baiknya kita perlu mengenal lebih jauh lagi apa tujuan dan makna serta arti
keduanya yang menjadi bagian dari diri kita sendiri. Pembuatan karya ilmiah ini
bertujuan untuk ke depannya dapat menganalisis kodrat manusia; berbahasa,
berkegiatan dan memiliki unsur jiwa dan badan. Selain sebagai penjelasan,
pembahasan ini bermanfaat sebagai tujuan untuk penambah wawasan dan memberikan
informasi yang lebih baik lagi bagi siapa saja yang merasa kurang jelas
menyangkut topik yang dibahas badan dan jiwa.
BAB 2
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Badan dan Jiwa
Badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang
membentuk pribadi manusia. Manusia tidak disebut sebagai manusia kalau ia tidak
memiliki jiwa. Demikian juga ia tidak akan disebut sebagai manusia kalau ia
tidak memiliki badan. Badan dan jiwa adalah satu kesatuan. Kesatuan keduannya
menentukan keutuhan pribadi manusia.
2.2 Aliran-aliran
2.2.1 Monoisme
Monoisme adalah aliran filsafat yang
menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah.
Aliran ini menyatakan bahwa badan dan jiw merupakan satu substansi.
Keduanya merupakan satu kesatuan yang
membentuk kepribadian manusia. Aliran ini memiliki tiga bentuk, yaitu materialisme,
teori identitas, dan idealisme.
Materialisme merupakan teori tertua yang
membicarakan hubungan badan dan jiwa. Kendati demikian ada satu prinsip utama
yang ditemukan dalam aliran ini, yakni menempatkan materi sebagai dasar bagi
segala hal yang ada. Aliran ini sering juga disebut fisikalisme. Bagi
penganut aliran ini yang terdalam dan paling awal serta satu-satunya yang nyata
adalah materi. Materi Bereksistensi karena ia memiliki kekuatan sendiri.
Artinya, materi bisa ada tanpa dukungan atau gerakan dari unsur non materi.
Materi merupakan sumber serta keterangan terdalam bagi bereksistensinya segala
sesuatu. Segala hal tergantung pada materi. Penganut materialisme mengakui
bahwa manusia juga bersumber dari materi semata. Karena bersumber dari materi,
maka kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki manusia tidak melebihi kemungkinan
kombinasi-kombinasi materi. Bagi penganut aliran ini jiwa tidak memiliki
eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Ia merupakan buah terakhir dan
merupakan hasil evolusi tertinggi dari materi. Dengan pengakuan seperti ini,
eksistensi jiwa tidak bersifat ontologis bagi kaum fisikalisme, melainkan
bersifat kronologis.
Teori Identitas menekankan sesuatu yang
berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh penganut materialisme, bahkan mengakui
apa yang disangkal oleh materialisme, yakni aktivitas mental. Bagi penganut
aliran ini pernyataan mental merupakan identitas manusia. J J Smart dan H Feigl
merupakan dua penganut teori identitas. Keduanya membedakan manusia secara
filosofis menurut arti dan referensi, atau konotasi dan denotasi. Mereka
mengakui bahwa pernyataan mental dan fisik bukan dua hal yang berbeda secara
mendasar. Cabang monoisme yang lain adalah idealisme. Kalau penganut
materialisme meletakkan dasar segala hal pada materi, maka kaum idealis
meletakkannya pada sesuatu diluar materi.
Penganut idealisme lebih lanjut menegaskan
bahwa untuk bisa memahami realitas dan kejadian-kejadian spesial dan temporal
sampai pada hakikat yang terdalam. Hal-hal semacam ini senantiasa merupakan
fakta pada masa kini. Dalam sejarah filsafat modern Rene Descartes (1596-1650)
dikenal sebagai peletak dasar bagi idealisme melalui ungkapannya “cogito
ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Dalam ungkapan ini Rene
Descartes secara jelas mengaitkan jiwa dengan dengan kegiatan berpikir.
Kegiatan berpikir merupakan wujud eksistensi sekaligus ciri utama manusia yang
hidup. Jadi dasar eksistensi manusia bagi Descartes, bukan pada aktivitas
kejasmanian, melainkan pada aktivitas jiwa, yakni berpikir.
2.2.2 Dualisme
Dualisme adalah aliran yang mengajarkan
pandangan yang bertolak belakang dengan monoisme. Kalau monoisme menyangkal
badan dan jiwa sebagai dua substansi yang terpisah dan masih perlu dikaitkan
satu dengan yang lain, dualisme justru mengakuinya. Dualisme pada umumnya
memiliki empat cabang, yakni interaksionisme, okkasionalisme, paralelisme dan
epifenomenalisme.
Interaksionisme memfokuskan diri pada
hubungan timbal balik antara badan jiwa. Aliran ini mengakui bahwa
peristiwa-peristiwa mental kadang-kadang menyebabkan peristiwa-peristiwa
badani, sebaliknya, peristiwa-peristiwa badaniah kadang-kadang menyebabkan
peristiwa mental.
Okkasionalisme adalah cabang dualisme yang
lain. Penganut aliran ini memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan
badan dan jiwa.
Paralelisme, aliran ini mensejajarkan
kejadian yang ragawi dan yang rohani. Aliran ini menyatakan bahwa sistem
kejadian kejiwaan terdapat dalam jiwa manusia.
Epifenomenalisme, aliran ini melihat
hubungan badan dan jiwa dari fungsi syaraf. Aliran ini menyatakan bahwa
satu-satunya unsur yang kita dapati untuk menyelidiki proses-proses kejiwaan
ialah syaraf kita.
2.3 Badan Manusia
Badan merupakan bagian elemen mendasar
dalam membentuk pribadi manusia. Badan adalah dimensi manusia yang paling
nyata. Dalam pandangan tradisional, badan hanya dilihat sebagai kumpulan
pelbagai entitas material yang membentuk suatu makhluk. Namun pandangan Skinner
diatas bersifat deterministik dan tidak memberikan paham yang memadai tentang
keutuhan pribadi manusia. Badan manusia tidak sekedar tubuh yang konkret, dan
juga tidak hanya merupakan kumpulan organ-organ tubuh. Badan menyangkut
keakuan. Tetapi badan tidak berfungsi sampai disitu. Badan juga menghadirkan
dunia bagi manusia, sebaliknya menghadirkan manusia bagi dunia. Yang terang
buat semua orang ialah, bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Lihat
saja, bagaimana manusia itu menjadi sadar. Karena badannya. Badannya bersatu
dengan realitas sekitarnya dan dengan demikian: manusia bangkit, berada dalam
suatu “cahaya”, dia “melihat” dirinya dan barang-barang, dia menempatkan diri,
mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan), dia bisa berjalan,
bertindak, dan sebagainya. Lihatlah, cacat dalam badan juga mengurangi
kesadarannya, dan jika cacat itu merusak seluruh keinderaan, manusia juga tidak
bisa mengerti dunia. Jadi: berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Masing-masing
dari kita berkata: AKU. Dengan itu yang dimaksud bukan badan, tetapi juga bukan
jiwa. Manusia tidak sadar tentang jiwa, melainkan tentang aku. Kemampuan itu
juga bisa kita sebut sifat. Maka manusia kita katakan: bersifat rohani.
Bersamaan dengan itu, manusia juga jasmani, artinya materi. Dia berat atau
ringan, berdarah dan berdaging, bisa dilhat secara anatomis, mirip dengan
makhluk-makhluk hidup lainnya.
2.4 Jiwa Manusia
Badan manusia tidak memiliki arti apa-apa
tanpa jiwa. Juga tidak ada keakuan mnusia kalau ia dilepaskan dari jiwanya. Itu
berati jiwa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perwujudan jati diri
manusi sebagai subjek. Dalam pandangan masyarakat tradisional jiwa dimengerti
sebagai makhluk halus, atau kekuatan halus, bahkan sebagai tubuh yang tidak
bisa ditangkap oleh indera. Konsep seperti ini meletakkan jiwa diluar hakikat
manusia. Karena itu pengertian tradisional ini kita tinggalkan. Pandangan James
B Pratt (1875-1944) membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini. Pratt
menunjukkan bahwa ada empat kemampuan mendasar dari jiwa. Pertama, kemampuan
menghasilkan kualitas-kualitas penginderaan. Kedua, kemampuan menghasilkan
makna yang berasal dari penginderaan khusus. Ketiga, kemampuan memberikan
tanggapan terhadap hasil-hasil penginderaan dan makna dengan jalan merasakan,
berkehendak atau berusaha. Keempat, kemampuan memberikan tanggapan terhadap
proses-proses yang terjadi dalam pikiran demi kebaikan. Apa yang dikatakan
Pratt tentang fungsi moral jiwa sebenarnya tidak jauh dari apa yang dikatakan
oleh Santo Agustinus (354-430). Menurut Agustinus, manusia hanya bisa melakukan
penilaian terhadap tindakannya karena dorongan dari jiwa. Menurut Agustinus
tidak. Jiwa juga mendorong manusia untuk melakukan hukum-hukum moral yang
diketahui. Menurut Agustinus merupakan tanda berfungsinya jiwa dalam diri
seseorang. Agustinus lebih lanjut menunjukkan bahwa ada dua sumber dari
tindakan moral, yakni kehendak dan cinta. Akan tetapi bagi Agustinus, manusia
tidak hanya terdiri atas dorongan untuk memenuhi keinginannya, tetapi ia juga
memiliki dorongan melakukan sesuatu yang lebih luhur. Dorongan itu ialah cinta.
Cinta merupakan daya gerak batin paling fundamental. Karena itulah Pratt benar
ketika berkata, “Jiwa adalah aku”. Ia mempunyai cita-cita serta tujuan,
mempunyai kehendak, yang menderita, yang berusaha, dan yang mengetahui. Seluruh
manusia adalah rohani; seluruh manusia adalah jasmani. Kesatuan itu bisa
disebut: kesatuan rohani-jasmani. Dalam berpikir, maka dua aspek ini bisa kita
pandang tersendiri, sebagai dua barang yang tersendiri. Maka kita kata: badan
dan jiwa. Jiwa adalah prinsip rohani tadi, badan adalah prinsip jasmani.
Pandangan jiwa-badan adalah bisa salah karena memandang dua prinsip sebagai
tersendiri. Dalam realitas yang ada bukan badan, tetapi manusia, dan ini
mempunyai aspek rohani dan jasmani.
2.5 Badan dan Kesatuan Manusia
(AKU)
Selanjutnya jiwa dipandang sebagai sesuatu
yang berdiri sendiri (didalam) dan badan juga, tetapi kelihatan. Pikiran
tentang badan dan jiwa ini salah. Untuk membenarkan, katalah: aku ini ya rohani ya jasmani. Badan
adalah bentuk konkrit dari kejasmanianku, atau dari padaku sepanjang aku ini
jasmani. Yang ada bukan badan, yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku jasmani. Badan adalah
aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani, badan adalah wujudku
sebagai makhluk jasmani. Karena badan
itu menjadi penampakkank, maka bisa juga disebut: ekspresi manusia, atau lebih
konkrit: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Atau: aku nampak dengan dan
dalam bentuk yang disebut badan itu. Jika orang lain lihat badanku, maka dia
lihat aku.
2.6 Pandangan Filsuf mengenai Jiwa
Plato, memandang manusia sebagai makhluk
terpenting diantara makhluk lain yang ada didunia ini. Lebih lanjut lagi, Plato
mengungkapkan bahwa jiwa manusia merupakan substansi independen, kekal dan
sudah bereksistensi sebelum bersatu dengan tubuh. Akan tetapi pada intinya
Plato mau menjelaskan bahwa tubuh merupakan penjara jiwa, karena kemurnian jiwa
dapat diperoleh kembali kalau ia berhasil melepaskan diri dari ikatan-ikatan
ragawi. Sehingga dapat dikatakan bahwa hakekat jiwa bertentangan dengan tubuh.
Dengan kata lain Plato lebih menekankan otonomi jiwa itu sendiri.
Aristoteles, memahami jiwa dalam arti luas.
Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang hidup baik tumbuh-tumbuhan, binatang,
dan manusia mempunyai jiwa. Lebih lanjut Aristoteles mengungkapkan bahwa jiwa
manusia mempunyai kedudukan istimewa karena manusia berkat jiwanya yang khas
itu tidak hanya sanggup mengamati dunia sekitar secara inderawi, tapi sanggup
juga mengerti dunia maupun dirinya. Akan tetapi Aristoteles lebih menekankan
kesatuan antara tubuh dan jiwa sehingga menurutnya jiwa itu tidak otonom.
Thomas Aquinas, pandangannya mengenai jiwa
di latar belakangi oleh pandangan Plato dan Aristoteles. Aquinas beranggapan
bahwa pandangan mereka tidak bisa menghubungkan secara jelas antara tubuh dan
jiwa. Beralih dari realitas yang ada, Aquinas melihat bahwa segala aktifitas
perbuatan subjek berasal dari kerja sama antara forma substansial dengan tubuh.
Aquinas lebih menekankan jiwa sebagai usaha manusia untuk melakukan aktifitas.
Aquinas memahami bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang tidak lengkap
yaitu materi dan forma. Sehingga tubuh dan jiwa adalah dua unsur yang tidak
terpisahkan. Pandangan Aquinas tentang jiwa tidak terlepas dengan tubuh, karena
segala aktifitas subjek tidak bisa dianggap bahwa aktifitas tidak hanya
dilakukan oleh jiwa sendiri melainkan aktifitas itu terealisasi apabila diikuti
oleh aktifitas tubuh sendiri. Sehingga Aquinas berpendapat bahwa aktifitas
manusia tidak hanya dilakukan oleh tubuh atau jiwa saja melainkan tubuh dan
jiwa sebagai satu kesatuan utuh.
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas, manusia adalah makhluk yang
berhadapan dengan dirinya sendiri dalam dunianya. Manusia bukan hanya badan,
bukan pula hanya dari jiwa. Manusia bukan pula suatu badan yang padanya
ditambahkan suatu jiwa. Masing-masing dari itu, tidak dapat berdiri sendiri.
Manusia juga adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dan manusia
diciptakan dengan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka dari
itu manusia harus saling menghargai dan saling melengkapi satu dan lainnya.
Tetapi jiwa tidak bisa berfungsi dengan baik kalau tidak ada badan. Itu berarti
badan merupakan elemen konstitutif mendasar bagi jiwa. Badan juga merupakan
ungkapan keakuan, yakni jiwa seseorang. Jadi, realitas manusiawi adalah
realitas yang secara prinsipial terbentuk dari dua elemen, yakni elemen
material dan elemen spiritual.
3.2 Saran
Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi
yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan
dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Saya sangat berharap pada
para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada
penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
3.3 Refleksi Field Trip
Kegiatan Field Trip itu sangat
menyenangkan, karena kita tidak hanya terpaku dalam pembelajaran di kelas saja,
melainkan kita belajar di luar lingkungan kampus. Dan saya banyak belajar dari
segi kehidupan masyarakat di Kampung Betawi. Selain kampung betawi nya yang
sejuk dan indah, masyarakatnya pun ramah-ramah terhadap kami. Dan saya banyak
menemukan ciri-ciri khas dari suku betawi tersebut. Dan saya juga tidak
henti-hentinya berterimakasih kepada para Tim Dosen yang telah membuat kegiatan
pembelajaran tersebut. Saya jadi lebih banyak belajar dan mengenal dunia di
luar lingkungan kampus. Dan kegiatan ini lah sistem pembelajarannya tidak
membosankan.
DAFTAR PUSTAKA
- Sihotang,
Kasdin. (2013). Filsafat manusia.
Yogyakarta: Kanisius.
- Dryarkara,
N. (1989). Filsafat manusia. Yogyakarta:
Kanisius.
LAMPIRAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar