Senin, 06 Oktober 2014

TUGAS PAPER untuk blog filsafat

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT



EKSISTENSI BADAN DAN JIWA MANUSIA


Disusun Oleh :
Susanthy Margareth Soedaryo ( 705140144 )

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
2014

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
    Makhluk  hidup  secara esensial adalah yang mampu menyempurnakan dirinya sendiri. Makhluk hidup juga dapat melakukan semua kegiatan. Semua makhluk hidup memiliki dua aspek yaitu keseluruhan yang berorgan dan tersusun yang dinamakan badan, dan kesatuan substansial yang disebut jiwa. Badan dan jiwa bersama-sama suatu makhluk hidup yang merupakan substansi natural yang terbentuk dari badan dan jiwa dari keseluruhan organ dan kesatuan fundamental dari kesatuan inderawi dan subjektivitas metainderawi. Manusia juga adalah makhluk yang kompleks sebagai puncak evolusi. Jiwa juga suatu elemen inderawi, halus, panas, dan dinamus seperti nafas ataupun darah yang terdapat pada oragisme secara total. Dalam sudut pandang tulisan kuno, nafas pun dianggap sebagai lawan jiwa atau roh dan darah menjadi lambang hidup manusia itu sendiri. Nafas dan darah pun dapat dilambangkan sebagai jiwa, tetapi tidak dapat merupakannya. Badan dapat didefisinisikan melalui hubungan eratnya dengan dunia dan partisipasinya dengan jiwa atau keakuan. Badan manusia pun menduduki sebuah tempat didunia. Semua badan dilengkapi pancaindera yang membuat manusia sadar akan sekelilingnya dan beraksi secara afektif, sehingga manusia dapat merasakan kenikmatan dan penderitaan.

1.2      Tujuan Pembahasan
            Seperti yang telah di bahas diatas, sebagai manusia yang memiliki badan dan jiwa ada kala baiknya kita perlu mengenal lebih jauh lagi apa tujuan dan makna serta arti keduanya yang menjadi bagian dari diri kita sendiri. Pembuatan karya ilmiah ini bertujuan untuk ke depannya dapat menganalisis kodrat manusia; berbahasa, berkegiatan dan memiliki unsur jiwa dan badan. Selain sebagai penjelasan, pembahasan ini bermanfaat sebagai tujuan untuk penambah wawasan dan memberikan informasi yang lebih baik lagi bagi siapa saja yang merasa kurang jelas menyangkut topik yang dibahas badan dan jiwa.  

BAB 2
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Badan dan Jiwa
     Badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Manusia tidak disebut sebagai manusia kalau ia tidak memiliki jiwa. Demikian juga ia tidak akan disebut sebagai manusia kalau ia tidak memiliki badan. Badan dan jiwa adalah satu kesatuan. Kesatuan keduannya menentukan keutuhan pribadi manusia.
2.2 Aliran-aliran
2.2.1 Monoisme
    Monoisme adalah aliran filsafat yang menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Aliran ini menyatakan bahwa badan dan jiw merupakan satu substansi.
    Keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk kepribadian manusia. Aliran ini memiliki tiga bentuk, yaitu materialisme, teori identitas, dan idealisme.
    Materialisme merupakan teori tertua yang membicarakan hubungan badan dan jiwa. Kendati demikian ada satu prinsip utama yang ditemukan dalam aliran ini, yakni menempatkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada. Aliran ini sering juga disebut fisikalisme. Bagi penganut aliran ini yang terdalam dan paling awal serta satu-satunya yang nyata adalah materi. Materi Bereksistensi karena ia memiliki kekuatan sendiri. Artinya, materi bisa ada tanpa dukungan atau gerakan dari unsur non materi. Materi merupakan sumber serta keterangan terdalam bagi bereksistensinya segala sesuatu. Segala hal tergantung pada materi. Penganut materialisme mengakui bahwa manusia juga bersumber dari materi semata. Karena bersumber dari materi, maka kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki manusia tidak melebihi kemungkinan kombinasi-kombinasi materi. Bagi penganut aliran ini jiwa tidak memiliki eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Ia merupakan buah terakhir dan merupakan hasil evolusi tertinggi dari materi. Dengan pengakuan seperti ini, eksistensi jiwa tidak bersifat ontologis bagi kaum fisikalisme, melainkan bersifat kronologis.
    Teori Identitas menekankan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh penganut materialisme, bahkan mengakui apa yang disangkal oleh materialisme, yakni aktivitas mental. Bagi penganut aliran ini pernyataan mental merupakan identitas manusia. J J Smart dan H Feigl merupakan dua penganut teori identitas. Keduanya membedakan manusia secara filosofis menurut arti dan referensi, atau konotasi dan denotasi. Mereka mengakui bahwa pernyataan mental dan fisik bukan dua hal yang berbeda secara mendasar. Cabang monoisme yang lain adalah idealisme. Kalau penganut materialisme meletakkan dasar segala hal pada materi, maka kaum idealis meletakkannya pada sesuatu diluar materi.
    Penganut idealisme lebih lanjut menegaskan bahwa untuk bisa memahami realitas dan kejadian-kejadian spesial dan temporal sampai pada hakikat yang terdalam. Hal-hal semacam ini senantiasa merupakan fakta pada masa kini. Dalam sejarah filsafat modern Rene Descartes (1596-1650) dikenal sebagai peletak dasar bagi idealisme melalui ungkapannya “cogito ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada). Dalam ungkapan ini Rene Descartes secara jelas mengaitkan jiwa dengan dengan kegiatan berpikir. Kegiatan berpikir merupakan wujud eksistensi sekaligus ciri utama manusia yang hidup. Jadi dasar eksistensi manusia bagi Descartes, bukan pada aktivitas kejasmanian, melainkan pada aktivitas jiwa, yakni berpikir.
2.2.2 Dualisme
    Dualisme adalah aliran yang mengajarkan pandangan yang bertolak belakang dengan monoisme. Kalau monoisme menyangkal badan dan jiwa sebagai dua substansi yang terpisah dan masih perlu dikaitkan satu dengan yang lain, dualisme justru mengakuinya. Dualisme pada umumnya memiliki empat cabang, yakni interaksionisme, okkasionalisme, paralelisme dan epifenomenalisme.
    Interaksionisme memfokuskan diri pada hubungan timbal balik antara badan jiwa. Aliran ini mengakui bahwa peristiwa-peristiwa mental kadang-kadang menyebabkan peristiwa-peristiwa badani, sebaliknya, peristiwa-peristiwa badaniah kadang-kadang menyebabkan peristiwa mental.
    Okkasionalisme adalah cabang dualisme yang lain. Penganut aliran ini memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa.
    Paralelisme, aliran ini mensejajarkan kejadian yang ragawi dan yang rohani. Aliran ini menyatakan bahwa sistem kejadian kejiwaan terdapat dalam jiwa manusia.
    Epifenomenalisme, aliran ini melihat hubungan badan dan jiwa dari fungsi syaraf. Aliran ini menyatakan bahwa satu-satunya unsur yang kita dapati untuk menyelidiki proses-proses kejiwaan ialah syaraf kita.






2.3 Badan Manusia
    Badan merupakan bagian elemen mendasar dalam membentuk pribadi manusia. Badan adalah dimensi manusia yang paling nyata. Dalam pandangan tradisional, badan hanya dilihat sebagai kumpulan pelbagai entitas material yang membentuk suatu makhluk. Namun pandangan Skinner diatas bersifat deterministik dan tidak memberikan paham yang memadai tentang keutuhan pribadi manusia. Badan manusia tidak sekedar tubuh yang konkret, dan juga tidak hanya merupakan kumpulan organ-organ tubuh. Badan menyangkut keakuan. Tetapi badan tidak berfungsi sampai disitu. Badan juga menghadirkan dunia bagi manusia, sebaliknya menghadirkan manusia bagi dunia. Yang terang buat semua orang ialah, bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Lihat saja, bagaimana manusia itu menjadi sadar. Karena badannya. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya dan dengan demikian: manusia bangkit, berada dalam suatu “cahaya”, dia “melihat” dirinya dan barang-barang, dia menempatkan diri, mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan), dia bisa berjalan, bertindak, dan sebagainya. Lihatlah, cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya, dan jika cacat itu merusak seluruh keinderaan, manusia juga tidak bisa mengerti dunia. Jadi: berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Masing-masing dari kita berkata: AKU. Dengan itu yang dimaksud bukan badan, tetapi juga bukan jiwa. Manusia tidak sadar tentang jiwa, melainkan tentang aku. Kemampuan itu juga bisa kita sebut sifat. Maka manusia kita katakan: bersifat rohani. Bersamaan dengan itu, manusia juga jasmani, artinya materi. Dia berat atau ringan, berdarah dan berdaging, bisa dilhat secara anatomis, mirip dengan makhluk-makhluk hidup lainnya.


2.4 Jiwa Manusia
    Badan manusia tidak memiliki arti apa-apa tanpa jiwa. Juga tidak ada keakuan mnusia kalau ia dilepaskan dari jiwanya. Itu berati jiwa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perwujudan jati diri manusi sebagai subjek. Dalam pandangan masyarakat tradisional jiwa dimengerti sebagai makhluk halus, atau kekuatan halus, bahkan sebagai tubuh yang tidak bisa ditangkap oleh indera. Konsep seperti ini meletakkan jiwa diluar hakikat manusia. Karena itu pengertian tradisional ini kita tinggalkan. Pandangan James B Pratt (1875-1944) membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini. Pratt menunjukkan bahwa ada empat kemampuan mendasar dari jiwa. Pertama, kemampuan menghasilkan kualitas-kualitas penginderaan. Kedua, kemampuan menghasilkan makna yang berasal dari penginderaan khusus. Ketiga, kemampuan memberikan tanggapan terhadap hasil-hasil penginderaan dan makna dengan jalan merasakan, berkehendak atau berusaha. Keempat, kemampuan memberikan tanggapan terhadap proses-proses yang terjadi dalam pikiran demi kebaikan. Apa yang dikatakan Pratt tentang fungsi moral jiwa sebenarnya tidak jauh dari apa yang dikatakan oleh Santo Agustinus (354-430). Menurut Agustinus, manusia hanya bisa melakukan penilaian terhadap tindakannya karena dorongan dari jiwa. Menurut Agustinus tidak. Jiwa juga mendorong manusia untuk melakukan hukum-hukum moral yang diketahui. Menurut Agustinus merupakan tanda berfungsinya jiwa dalam diri seseorang. Agustinus lebih lanjut menunjukkan bahwa ada dua sumber dari tindakan moral, yakni kehendak dan cinta. Akan tetapi bagi Agustinus, manusia tidak hanya terdiri atas dorongan untuk memenuhi keinginannya, tetapi ia juga memiliki dorongan melakukan sesuatu yang lebih luhur. Dorongan itu ialah cinta. Cinta merupakan daya gerak batin paling fundamental. Karena itulah Pratt benar ketika berkata, “Jiwa adalah aku”. Ia mempunyai cita-cita serta tujuan, mempunyai kehendak, yang menderita, yang berusaha, dan yang mengetahui. Seluruh manusia adalah rohani; seluruh manusia adalah jasmani. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. Dalam berpikir, maka dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri, sebagai dua barang yang tersendiri. Maka kita kata: badan dan jiwa. Jiwa adalah prinsip rohani tadi, badan adalah prinsip jasmani. Pandangan jiwa-badan adalah bisa salah karena memandang dua prinsip sebagai tersendiri. Dalam realitas yang ada bukan badan, tetapi manusia, dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani.
2.5 Badan dan Kesatuan Manusia (AKU)
    Selanjutnya jiwa dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri (didalam) dan badan juga, tetapi kelihatan. Pikiran tentang badan dan jiwa ini salah. Untuk membenarkan, katalah: aku ini ya rohani ya jasmani. Badan adalah bentuk konkrit dari kejasmanianku, atau dari padaku sepanjang aku ini jasmani. Yang ada bukan badan, yang ada ialah aku ini dan badan adalah aku dalam bentukku jasmani. Badan adalah aku sendiri dalam kedudukanku sebagai makhluk jasmani, badan adalah wujudku sebagai makhluk jasmani. Karena badan itu menjadi penampakkank, maka bisa juga disebut: ekspresi manusia, atau lebih konkrit: badan itu merupakan ekspresi dari aku. Atau: aku nampak dengan dan dalam bentuk yang disebut badan itu. Jika orang lain lihat badanku, maka dia lihat aku.

2.6 Pandangan Filsuf mengenai Jiwa
    Plato, memandang manusia sebagai makhluk terpenting diantara makhluk lain yang ada didunia ini. Lebih lanjut lagi, Plato mengungkapkan bahwa jiwa manusia merupakan substansi independen, kekal dan sudah bereksistensi sebelum bersatu dengan tubuh. Akan tetapi pada intinya Plato mau menjelaskan bahwa tubuh merupakan penjara jiwa, karena kemurnian jiwa dapat diperoleh kembali kalau ia berhasil melepaskan diri dari ikatan-ikatan ragawi. Sehingga dapat dikatakan bahwa hakekat jiwa bertentangan dengan tubuh. Dengan kata lain Plato lebih menekankan otonomi jiwa itu sendiri.
    Aristoteles, memahami jiwa dalam arti luas. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang hidup baik tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia mempunyai jiwa. Lebih lanjut Aristoteles mengungkapkan bahwa jiwa manusia mempunyai kedudukan istimewa karena manusia berkat jiwanya yang khas itu tidak hanya sanggup mengamati dunia sekitar secara inderawi, tapi sanggup juga mengerti dunia maupun dirinya. Akan tetapi Aristoteles lebih menekankan kesatuan antara tubuh dan jiwa sehingga menurutnya jiwa itu tidak otonom.
    Thomas Aquinas, pandangannya mengenai jiwa di latar belakangi oleh pandangan Plato dan Aristoteles. Aquinas beranggapan bahwa pandangan mereka tidak bisa menghubungkan secara jelas antara tubuh dan jiwa. Beralih dari realitas yang ada, Aquinas melihat bahwa segala aktifitas perbuatan subjek berasal dari kerja sama antara forma substansial dengan tubuh. Aquinas lebih menekankan jiwa sebagai usaha manusia untuk melakukan aktifitas. Aquinas memahami bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang tidak lengkap yaitu materi dan forma. Sehingga tubuh dan jiwa adalah dua unsur yang tidak terpisahkan. Pandangan Aquinas tentang jiwa tidak terlepas dengan tubuh, karena segala aktifitas subjek tidak bisa dianggap bahwa aktifitas tidak hanya dilakukan oleh jiwa sendiri melainkan aktifitas itu terealisasi apabila diikuti oleh aktifitas tubuh sendiri. Sehingga Aquinas berpendapat bahwa aktifitas manusia tidak hanya dilakukan oleh tubuh atau jiwa saja melainkan tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan utuh.
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
    Dari uraian diatas, manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri dalam dunianya. Manusia bukan hanya badan, bukan pula hanya dari jiwa. Manusia bukan pula suatu badan yang padanya ditambahkan suatu jiwa. Masing-masing dari itu, tidak dapat berdiri sendiri. Manusia juga adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dan manusia diciptakan dengan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka dari itu manusia harus saling menghargai dan saling melengkapi satu dan lainnya. Tetapi jiwa tidak bisa berfungsi dengan baik kalau tidak ada badan. Itu berarti badan merupakan elemen konstitutif mendasar bagi jiwa. Badan juga merupakan ungkapan keakuan, yakni jiwa seseorang. Jadi, realitas manusiawi adalah realitas yang secara prinsipial terbentuk dari dua elemen, yakni elemen material dan elemen spiritual.

3.2 Saran
    Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Saya sangat berharap pada para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
3.3 Refleksi Field Trip
    Kegiatan Field Trip itu sangat menyenangkan, karena kita tidak hanya terpaku dalam pembelajaran di kelas saja, melainkan kita belajar di luar lingkungan kampus. Dan saya banyak belajar dari segi kehidupan masyarakat di Kampung Betawi. Selain kampung betawi nya yang sejuk dan indah, masyarakatnya pun ramah-ramah terhadap kami. Dan saya banyak menemukan ciri-ciri khas dari suku betawi tersebut. Dan saya juga tidak henti-hentinya berterimakasih kepada para Tim Dosen yang telah membuat kegiatan pembelajaran tersebut. Saya jadi lebih banyak belajar dan mengenal dunia di luar lingkungan kampus. Dan kegiatan ini lah sistem pembelajarannya tidak membosankan.


DAFTAR PUSTAKA
  1. Sihotang, Kasdin. (2013). Filsafat manusia. Yogyakarta: Kanisius.
  2. Dryarkara, N. (1989). Filsafat manusia. Yogyakarta: Kanisius.









LAMPIRAN




   

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar