Selasa, 11 November 2014

Berkenalan dengan Gangguan Autisme

Berkenalan dengan Gangguan Autisme
     Pada masa-masa saat ini kasus mengenai Autisme pada anak-anak semakin meningkat sehingga seolah-olah menjadi wabah. Kasus mengenai Autisme membuat sekian banyak orang penasaran karena penyebab terjadinya penyakit tersebut belum diketahui pasti. Maka dari itu dianjurkan pada setiap orangtua untuk lebih memahami dan menerima kondisi anak tersebut.

Pengertian Autisme
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2000).  
     Menurut Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma. Autisme merupakan suatu kumpulan sindrom akibat kerusakan saraf (Wijayakusuma, 2005, h. 10).
     Menurut Andri Priyatna. Autis atau autisme adalah salah satu dari LIMA tipe gangguan perkembangan pervasif atau PDD (pervasive developmental disorders), yang ditandai tampilnya abnormalitas pada domain interaksi sosial dan komunikasi (Priyatna, 2010, h. 2).
     Menurut Galih. A. Veskarisyanti. Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya (Verskarisyanti, 2008, h. 17).
     Menurut Adriana S. Ginanjar. Autisme merupakan gangguan perkembangan yang disebabkan oleh kelainan struktur dan kimiawi otak (Ginanjar, 2008, h. 23).
  
Tanda Umum Autisme
     Ada tiga perilaku yang menjadi ciri khas autisme: (a) anak autistik mengalami kesulitan dengan interaksi sosial, (b) bermasalah dengan komunikasi verbal dan nonverbal, dan (c) tampilnya perilaku repetitif atau tampilnya interest yang sempit atau obsesif pada suatu objek tertentu (Priyatna, 2010).

Kriteria Diagnosis Autis
DSM-IV-TR dikutip dalam Peeters (2004) yakni sebagai berikut:
  1. Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok 1, 2, dan 3 yang meliputi paling sedikit dua pokok dari kelompok 1, paling sedikit satu pokok dari kelompok 2 dan paling sedikit satu pokok dari kelompok 3.
  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua di antara yang berikut ini:
a.    Ciri gangguan yang jelas dalam penggunaan berbagai perilaku nonverbal (bukan lisan) seperti kontak mata, ekspresi wajah, gestur, dan gerak isyarat untuk melakukan interaksi sosial.
b.    Ketidakmampuan mengembangkan hubungan pertemanan sebaya yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
c.    Ketidakmampuan turut merasakan kegembiraan orang lain.
d.    Kekurangmampuan dalam berhubungan emosional secara timbal balik dengan orang lain.
  1. Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari yang berikut ini:
a.    Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestur atau mimik muka sebagai cara alternatif dalam berkomunikasi).
b.    Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.
c.    Penggunaan bahasa yang repetitif (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat idiosinktratik (aneh).
d.    Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
  1. Pola minat perilaku yang terbatas, repetitif, stereotip seperti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang berikut ini:
a.    Meliputi keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang terbatas atau stereotip yang bersifat abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.
b.    Kepatuhan yang tampaknya didorong oleh rutinitas atau ritual spesifik (kebiasaan tertentu) yang nonfungsional (tidak berhubungan dengan fungsi).
c.    Perilaku gerakan stereotip dan repetitif (seperti terus menerus membuka –tutup genggaman, memuntir jari atau tangan atau mengerakkan tubuh dengan cara yang kompleks.
d.    Keasyikan yang terus-menerus terhadap bagian-bagian dari sebuah benda.
  1. Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia 3 tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut ini : (1) interaksi sosial, bahasa yang digunakan dalam perkembangan sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) permainan simbolik atau imajinatif.
  2. Sebaiknya tidak disebut dengan istilah Rett Disorder, Integrative Disorder Kanak-kanak, atau Asperger Syndrome. (h. 1-2).
Jenis-jenis Autisme
     Ada beberapa tipe autisme yaitu: (a) aloof, anak sering berusaha menarik diri dari kontak sosial dan cenderung untuk menyendiri di pojok; (b) passive, anak ini tidak berusaha mengadakan kontak sosial melainkan hanya menerima saja; dan (c) active but odd, anak melakukan pendekatan namun hanya bersifat satu sisi yang bersifat repetitive dan aneh (Veskarisyanti, 2008).
     Beragamnya pendapat tentang penyebab autisme serta kompleksnya masalah yang dihadapi anak-anak autis memunculkan berbagai macam penanganan. Berikut ini secara singkat beberapa penanganan autisme yang sudah dikenal dan telah terbukti memberikan perubahan positif bagi anak, yaitu (a) applied behavior analysis atau ABA, (b) penanganan biomedis, (c) penanganan integrasi sensorik, dan (d) terapi wicara (Ginanjar, 2008, h.32-35).

Penyebab Autisme
     Sampai saat ini penelitian-penelitian tentang autisme belum menemukan penyebab pasti dari autisme. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab adalah sebagai berikut: (a) faktor genetik, bila salah satu anak menunjukkan gejala spektrum autistik, maka kembarannya punya resiko yang tinggi memiliki gangguan sama; (b) masalah pada masa kehamilan dan proses melahirkan, ibu yang mengkonsumsi alkohol, terkena virus rubella, menderita menderita infeksi kronis atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang diduga mempertinggi resiko autisme; (c) vaksinasi, banyak orang tua yang melihat anaknya yang tadinya berkembang normal menunjukkan kemunduran setelah memperoleh vaksinasi MMR; (d) racun dan logam berat dari lingkungan, berbagai racun yang berasal dari pestisida, polusi udara, dan cat tembok dapat mempengaruhi kesehatan janin; (e) gangguan pencernaan, mereka mengalami intoleransi terhadap berbagai jenis makanan, memiliki tingkat alergi yang tinggi, dan daya tahan tubuh mereka lemah (Ginanjar, 2008, h. 30-31).
Terapi Autisme
     Perlu dipahami oleh para orangtua, bahwa terapi harus dimulai sedini mungkin sebelum usia 5 tahun. Perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia sebelum 5 tahun, puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh karena itu dibagi dalam beberapa jenis terapi, yaitu (a) terapi perilaku, (b) terapi biomedik (obat, vitamin, mineral, food supplements), (c) sosialisasi ke sekolah reguler, dan (d) sekolah (pendidikan) khusus (Handojo, 2003, h. 29-33).

Kesimpulan
     Menjadi anak autisme bukan kemauan dari sang anak, dan untuk menjadi anak autisme tidak berarti bahwa sang anak bukanlah manusia. Semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tergantung dari diri individu tersebut bagaimana cara menghargai arti hidup yang sebenarnya. Tidak pernah ada yang menginginkan untuk menjadi manusia yang memiliki kekurangan atau keterbelakangan, dan bagi para orangtua yang memiliki anak yang mempunyai kekurangan atau pun keterbatasan, janganlah mengucilkan anak tersebut, hargailah anak itu dengan apa adanya.




DAFTAR PUSTAKA
Ginanjar, A. S. (2008). Panduan praktis mendidik anak autis: Menjadi orang tua
     istimewa. Jakarta: Dian Rakyat.
Handojo, Y. (2003). Autisma: Petunjuk praktis dan pedoman materi untuk mengajar
     anak normal, autis dan prilaku lain. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Priyatna, A. (2010). Amazing autism: Memahami, mengasuh, dan mendidik anak
     autis. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Setiawan, E. (2012/2014). Kamus besar bahasa Indonesia. Diunduh dari
Veskarisyanti, G. A. (2008). Dua belas terapi autis: Paling efektif & hemat untuk
     autisme, hiperaktif, dan retardasi mental. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Wijayakusuma, H. M. H. (2005). Anakku sembuh dari autisme: 104 pasien dari
     sejumlah pasien yang disembuhkan bukti efektifitas terapi jarum multi super
     mutakhir. Jakarta: Dyatama Milenia.







Kamis, 06 November 2014

Perkembangan dalam Berkarier

Perkembangan dalam Berkarier
Pengertian Karier
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karier adalah perkembangan dan kemajuan di kehidupan, pekerjaan, dan jabatan (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2000).
     Menurut Amaryllia Puspasari. Karier adalah suatu proses pembentukan perjalanan seumur hidup yang berasal dari proses pengelolaan keahlian, ilmu pengetahuan maupun pengalaman (Puspasari, 2011).
     Maka dapat disimpulkan bahwa karier adalah suatu prestasi yang dicapai. Karier juga adalah suatu pengalaman atau rangkaian perilaku yang dilihat dari kinerja pekerjaan yang berkelanjutan dan mendapat apresiasi dari orang lain.    

Perbedaan Karier dengan Pekerjaan
     Perbedaan Karier Menurut Amaryllia Puspasari. Pekerjaan memiliki definisi sebagai suatu hal yang dilaksanakan oleh seorang individu sebagai bagian dari mendapatkan penghasilan. Mekanisme dari pekerjaan itu sendiri adalah suatu proses pekerjaan dimana pekerjaan tersebut digunakan untuk memberikan kompensasi. Karier adalah suatu proses pengelolaan keahlian, ilmu pengetahuan maupun pengalaman.
     Didalamnya juga melibatkan banyak material dan nilai yang dimiliki oleh individu itu sendiri dalam hidupnya, seperti keluarga, sahabat, teman, pendidikan, pekerjaan maupun hubungan yang dimiliki dalam kehidupan individu yang dimaksud itu sendiri. Cara membedakan kedua hal tersebut secara nyata adalah karier biasanya dapat terbentuk dari pekerjaan yang dimiliki dan dilengkapi dengan komitmen dan integritas dalam menekuni pekerjaan yang dilakukannya. Seorang yang bekerja disebabkan untuk mencari uang saja, tentu akan terlihat sebagai orang yang sangat komersial.

Faktor Penghambat dalam Berkarir
      Ada beberapa faktor yang menghambat dalam berkarier karena tidak bisa megatur prioritas, suka menunda pekerjaan, selalu menghindari resiko, terlalu takut gagal, dan malas membangun jaringan (“Lima faktor penghambat suksesnya karir,” 2013).
      Setiap orang cenderung menghindari kegagalan. Maka atasi kegagalan tersebut dengan mengubah pola pikir dengan meghilangkan rasa takut, bersikap cuek, ekspetasi terlalu tinggi, jangan mudah menyerah, jangan mudah pesimis (“Kalahkan lima sikap penyebab kegagalan,” 2012).

Faktor Keberhasilan dalam Berkarier
      Pekerjaan merupakan salah satu tolak ukur dari seberapa sukses karier yang dijalani saat ini. Tidak semua pekerjaan berjalan dengan mulus. Segala hal tentu memiliki tingkat permasalahan yang berbeda. Itulah yang akan menentukan karier seseorang kedepannya. Dan untuk membantu menunjang dalam berkarier, ada beberapa hal yang harus di prioritaskan seperti berpenampilan yang baik, bersosialisasi dengan baik, mempunyai pengalaman, disiplin, percaya diri, tidak terpaku pada satu hal, dan rendah diri. Itulah kunci untuk mencapai suatu keberhasilan yang diinginkan (“Tujuh faktor penunjang kesuksesan dalam karir,” 2014).

Pemahaman Jalur Karier
     Beberapa jalur karier yang akan dimiliki oleh seseorang. Secara umum tersedia 3 jalur karier yang dapat muncul dari tiap individu, yaitu: (a) Jalur karier akadamik, jalur karier ini merupakan jalur karier yang terbentuk dari latar belakang pendidikan seseorang, di mana individu diharapkan untuk menempuh jalan seleksi yang ada di bidang akademis sesuatu dengan ditetapkan dalam standar kurikulum; (b) Jalur keahlian, jalur karier ini terbentuk sebagai akibat keterampilan seseorang dalam bekerja, pada beberapa bidang terbentuk sebagai bentuk sistem akademis yang didominasi oleh pelatihan atau pengalaman kerja; (c) Jalur kreativitas, jalur karier yang terbentuk sebagai akibat dari kemampuan individu tersebut sebagai bentuk kreativitas atau seni; (d) Jalur entrepreneurship, jalur karier yang unik di mana individu dituntut untuk dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan pengelolaan investasi. Karier dalam pemahaman praktis adalah proses yang harus melalui perencanaan dan melalui seleksi yang cukup panjang (Puspasari, 2011).
     Bagaimana seseorang individu memilih kariernya adalah hal yang menarik untuk ditelaah. Dalam beberapa individu cenderung untuk tidak dapat mendapatkan pilihan dalam mengembangkan kariernya. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berpaling dari karier yang seharusnya disesuaikan dengan latar belakang pendidikan yang dijalanni oleh anak tersebut dalam bekerja, (a) bagaimana suatu karier dihargai, (b) paksaan dan pengaruh faktor eksternal, (c) tuntutan peranan dalam masyarakat, dan (d) new age career (Puspasari, 2011).

Solusi
     (“Solusi berkarier di tempat paling sesuai minat,” 2014). Banyak orang berkarier didasarkan pada keahlian saja. Sedangkan berkarier juga perlu mempertimbangkan minat dan kepribadian. Salah memilih karier hanya karena tidak mempertimbangkan kenyamanan dan passion dapat mengakibatkan frustasi dan merahnya rapor prestasi kerja. Berikut hal-hal penting dalam menentukan karier yang sesuai minat dan kepribadian. (a) tidak ada salahnya untuk kembali mengenali diri sendiri dan memelajari kepribadian anda sebelum menggunakannya sebagai dasar pemilihan karir, (b) jangan korbankan minat anda demi kepribadian, (c) seimbangkan kepribadian dengan keahlian, (d) konsultasikan panduan karier pada ahli psikologi karier.

Kesimpulan
     Setiap individu dapat berkembang secara unik untuk mencapai karier yang diharapkan akan dicapainya. Dari pengalaman yang terlihat, adalah sangat perlu bagi orang tua untuk mengelola karier anak sejak dini. Kebanyakan orang salah mengira bahwa karier adalah sama dengan pekerjaan, yang mana sebenarnya itu tidaklah tepat. Karier lebih mengikat kepada tujuan hidup dari individu ketika ia dewasa. Untuk mempersiapkan karier dari awal adalah proses yang tepat agar anak menjadi lebih terfokuskan dalam proses pengembangan kariernya.

DAFTAR PUSTAKA
Kalahkan lima sikap penyebab kegagalan. (2012). Diunduh dari http://female.kompas.com/read/2012/05/12/1007496/Kalahkan.5.Sikap.Penyebab.Kegagalan.
Lima faktor penghambat suksesnya karir. (2013). Diunduh dari http://www.lihat.co.id/2013/05/5-faktor-penghambat-suksesnya-karir.html.
Puspasari, A. (2011). Manajemen strategi karier anak: Panduan menjadi konsultan karier anak. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Setiawan, E. (2012/2014). Kamus besar bahasa Indonesia. Diunduh dari http://kbbi.web.id/karier.
Solusi berkarir di tempat paling sesuai minat. (2014). Diunduh dari http://pewartaekbis.com/berkarir-di-tempat-sesuai-minat/2436/#.
Tujuh faktor penunjang kesuksesan dalam berkarir. (2014). Diunduh dari http://gemintang.com/kisah-sukses-motivasi-inspirasi/7-faktor-penunjang-kesuksesan-dalam-karir/.