Jumat, 03 Oktober 2014

Eksistensialisme menurut Jean Paul Sartre

Materi : Jumat, 03 September 2014

Apa itu eksistensialisme. . . ???
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia. Yang pokok pembicaraannya adalah manusia dan cara beradanya yang khas ditengah makhluk lainnya. Mencoba melihat manusia secara khusus.

Beberapa tokoh-tokoh filsafat yang menganut gaya eksistensialisme :  antara lain Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll.

Namun satu hal yang sama, berfilsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.

Ciri-ciri eksistensi :  (-) Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi. (-) Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan. (-) Manusia dipandang terbuka, belum selesai (artinya : manusia itu penuh dengan misteri), Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya. (-) Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.

Tiga cara / sikap bereksistensi :  (-) Sikap Estetis , (-) Sikap Etis , (-) Sikap Religius

Pemikiran filsafat Sartre :  Bagi Sartre manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. (-) Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran. (-) Tanggung jawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri. (-) Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka. 

Kenyataan ( kefaktaan ) yang mengurangi penghanyatan kebebasan :  (-) Tempat dimana kita berada, masa lalu, lingkungan sekitar, kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri, dan maut.

Kebutuhan manusia :  (-) Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelma sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. (-) Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai alat semata-mata, tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.

Komunikasi dan cinta :  Komunikasi = Suatu hal yang apriori tidak mungkin tanpa adanya sengketa, karna setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorang seolah-olah membekukan orang lain. Cinta = Bentuk hubungan keinginan saling memiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karna objektifikasi yang tidak terhindarkan. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar