Berkenalan dengan Gangguan Autisme
Pada masa-masa saat ini kasus mengenai
Autisme pada anak-anak semakin meningkat sehingga seolah-olah menjadi wabah.
Kasus mengenai Autisme membuat sekian banyak orang penasaran karena penyebab
terjadinya penyakit tersebut belum diketahui pasti. Maka dari itu dianjurkan
pada setiap orangtua untuk lebih memahami dan menerima kondisi anak tersebut.
Pengertian Autisme
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Autisme adalah gangguan perkembangan pada
anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan
perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain
terganggu (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2000).
Menurut
Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma. Autisme merupakan suatu kumpulan sindrom
akibat kerusakan saraf (Wijayakusuma, 2005, h. 10).
Menurut Andri Priyatna. Autis
atau autisme adalah salah satu dari LIMA tipe gangguan perkembangan pervasif
atau PDD (pervasive developmental disorders), yang ditandai tampilnya abnormalitas
pada domain interaksi sosial dan komunikasi (Priyatna, 2010, h. 2).
Menurut
Galih. A. Veskarisyanti. Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan
pada anak yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang
kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya
(Verskarisyanti, 2008, h. 17).
Menurut
Adriana S. Ginanjar. Autisme merupakan gangguan perkembangan yang
disebabkan oleh kelainan struktur dan kimiawi otak (Ginanjar, 2008, h. 23).
Tanda Umum Autisme
Ada tiga perilaku yang menjadi ciri khas
autisme: (a) anak autistik mengalami kesulitan dengan interaksi sosial, (b) bermasalah
dengan komunikasi verbal dan nonverbal, dan (c) tampilnya perilaku repetitif
atau tampilnya interest yang sempit atau obsesif pada suatu objek tertentu
(Priyatna, 2010).
Kriteria Diagnosis Autis
DSM-IV-TR
dikutip dalam Peeters (2004) yakni sebagai berikut:
- Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok 1,
2, dan 3 yang meliputi paling sedikit dua pokok dari kelompok 1, paling
sedikit satu pokok dari kelompok 2 dan paling sedikit satu pokok dari
kelompok 3.
- Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang
ditunjukkan oleh paling sedikit dua di antara yang berikut ini:
a.
Ciri
gangguan yang jelas dalam penggunaan berbagai perilaku nonverbal (bukan lisan)
seperti kontak mata, ekspresi wajah, gestur, dan gerak isyarat untuk melakukan
interaksi sosial.
b.
Ketidakmampuan
mengembangkan hubungan pertemanan sebaya yang sesuai dengan tingkat
perkembangannya.
c.
Ketidakmampuan
turut merasakan kegembiraan orang lain.
d.
Kekurangmampuan
dalam berhubungan emosional secara timbal balik dengan orang lain.
- Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang
ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari yang berikut ini:
a.
Keterlambatan
atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha
untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestur atau mimik muka sebagai cara
alternatif dalam berkomunikasi).
b.
Ciri
gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan
dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.
c.
Penggunaan
bahasa yang repetitif (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau
bersifat idiosinktratik (aneh).
d.
Kurang
beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang
sesuai dengan tingkat perkembangannya.
- Pola minat perilaku yang terbatas, repetitif,
stereotip seperti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang
berikut ini:
a.
Meliputi
keasyikan dengan satu atau lebih pola minat yang terbatas atau stereotip yang
bersifat abnormal baik dalam intensitas maupun fokus.
b.
Kepatuhan
yang tampaknya didorong oleh rutinitas atau ritual spesifik (kebiasaan
tertentu) yang nonfungsional (tidak berhubungan dengan fungsi).
c.
Perilaku
gerakan stereotip dan repetitif (seperti terus menerus membuka –tutup
genggaman, memuntir jari atau tangan atau mengerakkan tubuh dengan cara yang
kompleks.
d.
Keasyikan
yang terus-menerus terhadap bagian-bagian dari sebuah benda.
- Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia 3
tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang
abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut ini : (1)
interaksi sosial, bahasa yang digunakan dalam perkembangan sosial, (2)
bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial, atau (3) permainan simbolik
atau imajinatif.
- Sebaiknya tidak disebut dengan istilah Rett Disorder, Integrative Disorder Kanak-kanak, atau Asperger Syndrome. (h. 1-2).
Jenis-jenis Autisme
Ada beberapa
tipe autisme yaitu: (a) aloof, anak
sering berusaha menarik diri dari kontak sosial dan cenderung untuk menyendiri
di pojok; (b) passive, anak ini tidak
berusaha mengadakan kontak sosial melainkan hanya menerima saja; dan (c) active but odd, anak melakukan
pendekatan namun hanya bersifat satu sisi yang bersifat repetitive dan aneh
(Veskarisyanti, 2008).
Beragamnya pendapat tentang penyebab
autisme serta kompleksnya masalah yang dihadapi anak-anak autis memunculkan
berbagai macam penanganan. Berikut ini secara singkat beberapa penanganan
autisme yang sudah dikenal dan telah terbukti memberikan perubahan positif bagi
anak, yaitu (a) applied behavior analysis
atau ABA, (b) penanganan biomedis, (c) penanganan integrasi sensorik, dan (d)
terapi wicara (Ginanjar, 2008, h.32-35).
Penyebab Autisme
Sampai saat ini penelitian-penelitian
tentang autisme belum menemukan penyebab pasti dari autisme. Beberapa faktor
yang diduga menjadi penyebab adalah sebagai berikut: (a) faktor genetik, bila
salah satu anak menunjukkan gejala spektrum autistik, maka kembarannya punya
resiko yang tinggi memiliki gangguan sama; (b) masalah pada masa kehamilan dan
proses melahirkan, ibu yang mengkonsumsi alkohol, terkena virus rubella,
menderita menderita infeksi kronis atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang
diduga mempertinggi resiko autisme; (c) vaksinasi, banyak orang tua yang
melihat anaknya yang tadinya berkembang normal menunjukkan kemunduran setelah
memperoleh vaksinasi MMR; (d) racun dan logam berat dari lingkungan, berbagai
racun yang berasal dari pestisida, polusi udara, dan cat tembok dapat mempengaruhi
kesehatan janin; (e) gangguan pencernaan, mereka mengalami intoleransi terhadap
berbagai jenis makanan, memiliki tingkat alergi yang tinggi, dan daya tahan
tubuh mereka lemah (Ginanjar, 2008, h. 30-31).
Terapi Autisme
Perlu dipahami oleh para orangtua, bahwa terapi harus dimulai sedini
mungkin sebelum usia 5 tahun. Perkembangan paling pesat dari otak manusia
terjadi pada usia sebelum 5 tahun, puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh
karena itu dibagi dalam beberapa jenis terapi, yaitu (a) terapi perilaku, (b)
terapi biomedik (obat, vitamin, mineral, food supplements), (c) sosialisasi ke
sekolah reguler, dan (d) sekolah (pendidikan) khusus (Handojo, 2003, h. 29-33).
Kesimpulan
Menjadi anak
autisme bukan kemauan dari sang anak, dan untuk menjadi anak autisme tidak
berarti bahwa sang anak bukanlah manusia. Semua manusia memiliki kekurangan dan
kelebihan masing-masing, tergantung dari diri individu tersebut bagaimana cara
menghargai arti hidup yang sebenarnya. Tidak pernah ada yang menginginkan untuk
menjadi manusia yang memiliki kekurangan atau keterbelakangan, dan bagi para
orangtua yang memiliki anak yang mempunyai kekurangan atau pun keterbatasan,
janganlah mengucilkan anak tersebut, hargailah anak itu dengan apa adanya.
DAFTAR PUSTAKA
Ginanjar,
A. S. (2008). Panduan praktis mendidik
anak autis: Menjadi orang tua
istimewa.
Jakarta: Dian Rakyat.
Handojo,
Y. (2003). Autisma: Petunjuk praktis dan
pedoman materi untuk mengajar
anak normal, autis dan prilaku lain. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Priyatna,
A. (2010). Amazing autism: Memahami,
mengasuh, dan mendidik anak
autis. Jakarta:
Elex Media Komputindo.
Setiawan,
E. (2012/2014). Kamus besar bahasa Indonesia. Diunduh dari
Veskarisyanti,
G. A. (2008). Dua belas terapi autis:
Paling efektif & hemat untuk
autisme, hiperaktif, dan retardasi mental. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Wijayakusuma,
H. M. H. (2005). Anakku sembuh dari
autisme: 104 pasien dari
sejumlah pasien yang disembuhkan bukti efektifitas terapi jarum multi
super
mutakhir. Jakarta:
Dyatama Milenia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar